Berbisnis Dengan Teman? Perhatikan 7 Hal Ini

Advertisement
Tips Berbisnis Dengan Teman, Ini Yang Perlu Kamu Perhatikan – Dalam proses memulai usaha dan bisnis, kadang kala kita merasa membutuhkan seorang partner. Hal ini biasanya terjadi ketika kita membutuhkan bantuan, bisa berupa modal, tenaga, maupun koneksi. Kita pun lazimnya akan mencari bantuan ke orang-orang terdekat, salah satunya adalah kepada teman. Tapi sayangnya, tidak semua teman akan cocok jika kamu ajak untuk berbisnis.

Teman dekat bukan berarti cocok untuk diajak berbisnis, ada banyak hal yang patut kamu perhatikan untuk menyeleksi teman. Sebaiknya kamu sesuaikan dengan kebutuhan kamu saat ini, jika kamu butuh modal maka cari teman yang bermodal banyak, jika tenaga maka cari teman yang memiliki kemampuan tinggi, jika koneksi maka cari teman yang memiliki jaringan luas.

Yang perlu diingat, memilih teman sesuai kebutuhan memang penting, tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai satu-satunya faktor, malah akan berbahaya jika kamu hanya fokus pada satu faktor tersebut. Ada banyak hal lainnya yang harus kamu pertimbangkan.

Nah, apa sajakah hal-hal yang perlu dipertimbangkan ketika memilih teman untuk diajak berbisnis? Berikut ini ulasan lengkapnya:

Sebelumnya, baca juga: Analisis kelayakan usaha.
Tips Berbisnis Dengan Teman

Kamu Nyaman Dengan Orang Itu? Cocokkah Pola Pikir Dia Dengan Kamu?
Teman yang sesuai dengan kebutuhan memang penting, seperti yang saya sebutkan di atas, tapi kalau kamu akhirnya tidak nyaman dengan orang tersebut juga tidak baik dalam mengurus bisnis. Adanya rasa tidak nyaman ini bisa membuat kamu merasa capek sendiri, jengkel, bahkan bisa memicu ledakan emosi dalam diri kamu sendiri. Jadi pastikan bahwa hanya memilih partner bisnis yang nyaman diajak untuk bekerjasama.

Dan yang tak kalah penting adalah masalah pola pikir dari si calon partner bisnis tersebut. Seperti yang kamu tahu, setiap orang bisa saja memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Akan sangat menyenangkan jika kamu bisa menemukan teman yang memiliki pola pikir yang sama.

Pola pikir bukan berarti kemampuan berpikir, dua hal tersebut sangat berbeda. Dalam dunia bisnis, pola pikir akan sangat berguna dalam mengambilan keputusan sebagaimana mestinya berkaitan dengan pemecahan masalah, mencari solusi, melakukan inovasi, dan control dengan normal, dan kemampuan berpikirlah yang akan memperjitu hal-hal tersebut.

Saya yakin, kamu sendiri pasti kenal seseorang yang memiliki pola pikir yang berbeda? Saya juga punya, bahkan teman dekat saya memiliki pola pikir yang sangat jauh berbeda dengan saya, oleh karena itu saya sangat menghindari berdiskusi dengannya. Saya main, bersenang-senang, jalan-jalan bersama dengannya, tapi saya selalu menghindarinya jika sudah masuk pada hal-hal yang harus membuat keputusan yang sangat penting.

Alokasi Modal, Kepemilikan, dan Keuntungan
Masalah modal dan keuntungan, yang paling adil adalah berdasarkan persentase penyertaan. Semakin besar persentase penyertaan modal, semakin besar pula persentase keuntungan dan kepemilikannya. Sebagai contoh, jika suatu usaha membutuhkan modal 100 juta, Dina menyetor 60 juta dan Kiki menyetor 40 juta, maka alokasinya terlihat seperti di tabel di bawah ini:
Nama Modal di setorKepemilikan Keuntungan
Dina60 juta60%60%
Kiki40 juta40%40%
Total100 juta100%100%
Itu kalau berdasarkan kebutuhan modal, nah gimana kalau kamu mengajak teman untuk berbisnis bukan karena kebutuhan modal, tapi karena kemampuannya atau karena koneksinya? Walaupun sangat jarang terjadi, tapi bisa saja kan. Kalau hal ini benar-benar terjadi, maka solusinya adalah dengan kesepakatan. Berikan kepadanya sedikit saja kepemilikan dan keuntungan+gaji.

Kita ambil contoh diatas, dan kamu harus memenuhi dan menyetor 100 juta, sedangkan Kiki tidak menyetor sama sekali. Tapi karena kamu sangat butuh kemampuan Kiki, bisa saja kamu mengajaknya untuk ikut menjadi pemilik. Kamu pun sepakat memberikan Kiki kepemilikan sebesar 5%, keuntungan 3% dan gaji tiap bulan 3 juta.
Advertisement


Kalau hanya butuh tenaga dan kemampuannya, kenapa tidak dijadikan pegawai saja? Ini pilihan sih, tapi kalau si Kiki sangat besar perannya, maka ada untungnya juga untuk memberikan persentase kepemilikan dan keuntungan untuk mengikat dirinya agar tidak pergi dan agar bekerja lebih giat lagi.

Gimana kalau Kiki menyetor modal dan juga perannya sangat besar? Lagi-lagi, buatlah kesepakatan! Ambil contoh pertama di atas, jika benar Kiki punya peran yang sangat besar, maka tinggal tambahin aja kepemilikan dan keuntungannya. Missal, tambahin 5%, tapi hal ini juga akan mengurangi kepemilikan dan keuntungan kamu sebesar 5% pula.

Jangan lewatkan: Tips membuat kontrak bisnis.

Siapa Yang Akan Memimpin?
Ada kalanya dan ini sangat sering terjadi, kamu dan partner bisnis memiliki setoran modal yang sama, juga perannya sama-sama besar. Secara otomatis kepemilikannya juga akan sama, kalau begitu siapa yang akan menjadi pemimpinnya?

Kalau setoran modal dan perannya seperti yang di contohkan di atas, akan sangat mudah menentukan siapa pemimpinnya. Tapi kalau semuanya sama, akan jadi sedikit sulit. Ingat ya, tidak boleh ada dua pemimpin karena akan mempersulit pengambilan keputusan dan membingungkan. Bisa dibayangkan, pemimpin A bilang kanan, tapi pemimpin B bilang kiri, mana yang akan diikuti oleh bawahan?
Karena itulah, kamu harus menentukan siapa pemimpinnya, diskusikan dengan partner. Timbang-timbang lagi peran masing-masing dari kalian.

Bisnis Bukan Permainan, Siapkah Kamu Bersikap Tegas Dengan Teman Sendiri?
Banyak hal kenapa kamu akhirnya memilih seorang teman untuk menjadi partner bisnis, dan ketika bisnis mulai berjalan, mungkin akan ada masalah-masalah dan kritik-kritik yang ingin kamu arahkan ke teman kamu sendiri. Apa kamu akan sungkan untuk menegurnya?

Sebainya jangan pernah sungkan untuk menegurnya, bersikap tegaslah! Jika teman bisnis kamu itu bekerja tidak sebagaimana mestinya dan meninggalkan tanggung jawabnya, kamu benar-benar perlu untuk mengevaluasi kinerjanya.

Untuk Kenyamanan, Pisahkan Masalah Bisnis dan Urusan Pribadi!
Pisahkan antara urusan kantor dengan urusan pribadi dengannya, kamu perlu berbicara baik-baik dengan teman kamu untuk masalah ini. Pada point sebelumnya, jika kamu harus bersikap tegas dengan partner bisnis, mungkin akan mengganggu urusan pribadi kamu dengannya. Kalau kamu dengannya tidak bisa memisahkan urusan kantor dan pribadi, bisa jadi hubunganmu akan terasa canggung, padahal kamu pengen bermain atau jalan-jalan dengannya.

Jadi, sangat bijak jika kamu membuat batas-batas tertentu, teman adalah teman, bisnis adalah bisnis. Hindari membahas bisnis ketika kamu bermain dengannya, kecuali jika sangat mendesak.

Jika Teman Mogok Di Tengan Jalan, Apa Yang Akan Kamu Lakukan?
Jika suatu saat teman bisnis kamu mogok dan memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnis, kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu juga akan ikutan mogok? Jika kamu juga ikut mogok, maka semuanya udah selesai dan tinggal pembubarannya saja. Tapi saya yakin, saat ini kamu tidak punya niatan untuk ikut mogok, jika memang demikian maka kamu perlu juga menyiapkan scenario terburuk jika teman kamu itu benar-benar meninggalkan perusahaan.

Pertama, di awal mendirikan usaha buat perjanjian penarikan dan pengembalian modal agar semuanya bisa diselesaikan dengan mudah, dan yang kedua adalah siapkan pengganti untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab dari teman kamu itu.

Buat Perjanjian Berkekuatan Hukum
Semuanya harus tertuang dalam perjanjian tertulis yang berkekuatan hukum. Dengan adanya perjanjian ini akan menghindari salah satu pihak mangkir dari kewajibannya, dan semua urusan pun akan dengan mudah diselesaikan tanpa konflik berkepanjangan.

Selanjutnya: Cara memulai bisnis.
----
Di atas adalah tips berbisnis dengan teman yang dapat saya bagikan kepada kalian. Semoga ulasan di atas bermanfaat. Saya harap bisnis kamu denga partner sukses dan berkembang pesat.
Advertisement
Previous
Next Post »

Sebelum Anda memberikan komentar dan tanggapan atas artikel di atas, baca dan pahami aturan tanggapan kami pada laman TOS. Setiap komentar yang tidak sesuai dengan aturan tanggapan tidak akan di publikasikan.
EmoticonEmoticon